Senin, 06 Mei 2013

Waktu Bukanlah Uang & Bukan Emas

Waktu Bukanlah Uang & Bukan Emas
Oleh: Muammal Habibi

Bagi saya, Waktu bukan hanya sekedar uang, bukan juga sekedar emas maupun materi paling berharga yang ada di dunia ini. Bila uang dan emas hilang, kita masih bisa mencari uang dan membeli emas  lagi. Namun bila waktu yang berlalu tentu kita tak akan pernah bisa memintanya kembali sekalipun kita menukarnya dengan segala bentuk materi berharga yang kita miliki. Sangat mungkin jika dalam sehari kita menghasilkan uang dan membeli emas, tapi sangat mustahil dalam sehari kita bisa mengahasilkan waktu walaupun sedetik. Sedetik saja waktu berlalu percuma, itu sama artinya sedetik umur kita berkurang sia-sia. Bagaimana jika semenit, sejam, sehari, sebulan, dan bahkan setahun waktu berlalu begitu saja tanpa manfaat baik di dunia maupun akhirat.

Tentu kita semua setuju jika tiap detik dalam hidup kita itu berharga, namun tak semua orang mau memahami bagaimana menghargai tiap detik dalam waktu yang kita miliki. Dari detik-detik yang telah kita lalui akan memperlihatkan apakah kita termasuk orang berkualitas ataukah orang yang gagal dan merugi. Setiap orang memiliki waktu yang sama 24 jam dalam sehari, namun dari mereka yang benar-benar menganggap waktu sangat berharga hanyalah mereka yang terbukti pandai memanfaatkan waktunya untuk hal-hal yang positif.

Sebagai muslim tentu kita sering mendengar Firman Allah Swt yang berbunyi:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”
(QS. Al ‘Ashr).

”Seandainya setiap manusia merenungkan surah ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].

Surah Al Ashr merupakan salah satu surah yang terdapat dalam Al Qur’an juz 30. Surah ini pendek dan umumnya banyak kaum muslimin yang sudah hafal, bahkan anak kecil pun sudah banyak yang dilatih untuk menghafal surah ini. Anehnya, surah ini memang sudah banyak diajarkan oleh para orang tua, guru, ustadz maupun ustadzah. Namun dalam realitanya masih banyak diantara kaum muslimin yang kurang menyadari, menghayati dan mentadabburi kandungan dalam surah tersebut. Keadaan tersebut terbukti jika dikorelasikan ataupun dihubungkan dengan realita banyaknya kaum muslimin yang membuang waktunya secara percuma untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.
Dari Abu Hurairah radhiallahunhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya .
(Hadits Hasan riwayat Turmuzi dan lainnya)

Sebagai muslim, baik saya, anda, atau mereka, harus disadari bahwa kita umat muslim sudah jauh tertinggal oleh kaum lain. Bisa kita lihat realitanya saat ini antara bangsa-bangsa muslim kalah maju dengan bangsa-bangsa non muslim. Fakta lain, Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim cenderung dan dominan lebih konsumtif dari pada produktif. Hampir seluruh properti ataupun perlengkapan yang dalam sehari-hari digunakan adalah hasil karya bangsa lain. Lalu sampai kapan kita akan terus menjadi Negara muslim yang konsumtif. Tentu jika kita semua ingin lebih baik tidakalah bijak jika kita hanya mengandalkan penguasa atau pemerintah selaku wakil rakyat untuk menggerakan Negara ini, melainkan perubahan ke arah lebih baik harus ada pada tiap individu. Sebab, maju mundurnya suatu bangsa tergantung dari seberapa banyak putera-puteri bangsa disiplin dalam mengatur waktu dan gigih dalam mencapai prestasi.

Marilah kita bersama untuk senantiasa menghargai setiap detik waktu kita, memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, menjadikan tiap detik waktu sebagai bagian terindah yang melebihi segala macam apapun bentuk harta yang paling berharga.

Tindakan paling sederhana untuk menuju lebih baik adalah mulai dari diri sendiri. Perbaikan diri dan mengatur manajemen waktu menjadi langkah dasar kita untuk menuju masa depan lebih baik.
Semoga Allah Selalu menyertai dan membimbing setiap langkah kita guna meraih ridho-Nya.
NB: Bagi saudara/i diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar