Waktu Bukanlah Uang & Bukan Emas
Oleh: Muammal Habibi
Bagi
saya, Waktu bukan hanya sekedar uang, bukan juga sekedar emas maupun materi
paling berharga yang ada di dunia ini. Bila uang dan emas hilang, kita masih
bisa mencari uang dan membeli emas lagi.
Namun bila waktu yang berlalu tentu kita tak akan pernah bisa memintanya
kembali sekalipun kita menukarnya dengan segala bentuk materi berharga yang kita
miliki. Sangat
mungkin jika dalam sehari kita menghasilkan uang dan membeli emas, tapi
sangat mustahil dalam sehari kita bisa mengahasilkan waktu walaupun
sedetik. Sedetik saja waktu berlalu percuma, itu sama artinya sedetik umur kita berkurang sia-sia. Bagaimana jika semenit, sejam, sehari, sebulan, dan bahkan setahun waktu berlalu begitu saja tanpa manfaat baik di dunia maupun akhirat.
Tentu
kita semua setuju jika tiap detik dalam hidup kita itu berharga, namun tak
semua orang mau memahami bagaimana menghargai tiap detik dalam waktu yang kita
miliki. Dari detik-detik yang telah kita lalui akan memperlihatkan apakah kita
termasuk orang berkualitas ataukah orang yang gagal dan merugi. Setiap orang memiliki
waktu yang sama 24 jam dalam sehari, namun dari mereka yang benar-benar menganggap
waktu sangat berharga hanyalah mereka yang terbukti pandai memanfaatkan
waktunya untuk hal-hal yang positif.
Sebagai
muslim tentu kita sering mendengar Firman Allah Swt yang berbunyi:
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati
kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”
(QS. Al ‘Ashr).
”Seandainya
setiap manusia merenungkan surah ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk
mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh
Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam
Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar
memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada
Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup
merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang
berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha
untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat
kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling
menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar
bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
Surah
Al Ashr merupakan salah satu surah yang terdapat dalam Al Qur’an juz 30. Surah
ini pendek dan umumnya banyak kaum muslimin yang sudah hafal, bahkan anak kecil
pun sudah banyak yang dilatih untuk menghafal surah ini. Anehnya, surah ini
memang sudah banyak diajarkan oleh para orang tua, guru, ustadz maupun
ustadzah. Namun dalam realitanya masih banyak diantara kaum muslimin yang
kurang menyadari, menghayati dan mentadabburi kandungan dalam surah tersebut. Keadaan
tersebut terbukti jika dikorelasikan ataupun dihubungkan dengan realita
banyaknya kaum muslimin yang membuang waktunya secara percuma untuk hal-hal
yang tidak bermanfaat.
Dari Abu Hurairah
radhiallahunhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak
berguna baginya .
(Hadits Hasan riwayat
Turmuzi dan lainnya)
Sebagai
muslim, baik saya, anda, atau mereka, harus disadari bahwa kita umat muslim sudah
jauh tertinggal oleh kaum lain. Bisa kita lihat realitanya saat ini antara
bangsa-bangsa muslim kalah maju dengan bangsa-bangsa non muslim. Fakta lain, Indonesia
yang mayoritas berpenduduk muslim cenderung dan dominan lebih konsumtif dari pada
produktif. Hampir seluruh properti ataupun perlengkapan yang dalam sehari-hari
digunakan adalah hasil karya bangsa lain. Lalu sampai kapan kita akan terus
menjadi Negara muslim yang konsumtif. Tentu jika kita semua ingin lebih baik
tidakalah bijak jika kita hanya mengandalkan penguasa atau pemerintah selaku
wakil rakyat untuk menggerakan Negara ini, melainkan perubahan ke arah lebih
baik harus ada pada tiap individu. Sebab, maju mundurnya suatu bangsa tergantung
dari seberapa banyak putera-puteri bangsa disiplin dalam mengatur waktu dan
gigih dalam mencapai prestasi.
Marilah kita bersama untuk senantiasa menghargai setiap detik waktu kita, memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, menjadikan tiap detik waktu sebagai bagian terindah yang melebihi segala macam apapun bentuk harta yang paling berharga.
Tindakan
paling sederhana untuk menuju lebih baik adalah mulai dari diri sendiri. Perbaikan
diri dan mengatur manajemen waktu menjadi langkah dasar kita untuk menuju masa
depan lebih baik.
Semoga
Allah Selalu menyertai dan membimbing setiap langkah kita guna meraih ridho-Nya.
NB: Bagi saudara/i diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)
NB: Bagi saudara/i diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar