Arruhul Falah Presents
"Tidak ada hasad (iri) yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harta, ia menghabiskannya dalam kebaikan dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain." (HR. Muslim). | Kita memang dilahirkan dalam ketidaktahuan, bukan berarti harus hidup dalam kebodohan | @Habibi_17
Rabu, 29 Mei 2013
PRODUK CINTA
Semoga dari tulisan ini tak hanya sekedar berbagi informasi, namun juga memberikan edukasi, inspirasi, dan motivasi serta peneguh hati.. | :)
“Kita produk Cinta.. karena kita dilahirkan dengan cinta.. dibesarkan dengan cinta.. maka dalam menjalani hidup pun harus dengan penuh cinta.. beribadah karena cinta.. mempersembahkan yang terbaik karena cinta.. yakni cinta kita kepada Allah Ta’ala..” (Muammal Habibi) | :)
Sebelum anda membaca lebih lanjut tulisan saya, terlebih dahulu saya ingin menyapa anda semua :
“Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh…” :)
Sapaan yang mulia, berisikan kalimah indah, bermuatan doa untuk anda, sebagai wujud kepedulian cinta sesama saudara. Dan saya berharap.. (eh maaf.. saya ralat kata “berharap” jadi “Memaksa”) dan saya memaksa kepada para pembaca untuk menjawab salam saya sekali-pun dalam hati karena menjawab salam tuh wajib hukumnya, dan dari jawaban salam anda terdapat hak saya untuk mendapatkan doa juga dari anda.. :) | (jangan merasa terancam ya) :D hehe..
Saudara-saudaraku yang baik hati dan mulia akhlaknya, serta rajin ibadahnya (di aamiinin ya), kita semua dilahirkan sebagai seorang JUARA. Yah, kita adalah JUARA..! saya tambahin deh, kita JUARA PENUH CINTA NAN MULIA.. (mantap kan!) hehe :D
Kenapa demikian??
Kita JUARA karena ;
Kita bermula dari “Nuthfah” ((maaf) air mani) terdiri dari jutaan sel sperma (spermatozoa) yang berenang melalui rahim dengan bantuan lendir serviks dalam rahim wanita dan terus bergerak menuju saluran sel telur. Singkatnya, jutaan sel sperma tersebut semuanya berkompetisi untuk mencapai satu tujuan, yakni ovum (sel reproduksi wanita). Dari jutaan sperma yang berkompetisi hanya satu-lah yang berhasil mencapai tujuannya, dialah juaranya, dan JUARA ITU ADALAH KITA !! .. :)
Kita PENUH CINTA nan MULIA karena ;
Dalam masa 9 bulan 10 hari kita berada dalam kandungan. Saat berada dalam kandungan Ibu, beliau melakukan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa hebatnya. Setiap saat ibu selalu memperhatikan kondisi calon buah hatinya, mengkonsumsi asupan yang bergizi guna menutrisi sang jabang bayi, saat berjalan sangat berhati-hati karena takut mencederai calon bayi, bahkan saat duduk dan tidur pun selalu berhati-hati. Salah satu yang perlu diapresiasi adalah dalam aktifitas apapun Sang Ibu memaksa diri untuk tetap kuat dengan beban yang ada didalam rahimnya selama berbulan-bulan. “Nah loh, kita saja yang baru diminta tolong ibu sebentar saja kok males2an…!”. Namun saya yakin para pembaca disini adalah anak yang berbakti dan selalu memuliakan orang tua | aamiin .. :)
Kembali pada pembahasan. Ketika tiba saatnya melahirkan, kian terlihat perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran Sang Ibu yang semakin luar biasa. Konsekuensinya, menempatkan dirinya berada diantara hidup dan mati. Berkat perjuangan ibu (dan izin Allah) kita semua bisa hadir di dunia yang indah ini. Perjuangan, pengorbanan, dan kesabaran ibu tersebut hanya untuk satu alasan, CINTA. Yah, faktor CINTA yang besar itulah sang Ibu telah meMULIA-kan anaknya dengan mempersembahkan segala bentuk pengorbanan hingga kita bisa seperti saat ini. Hingga anda semua bisa bicara, berbahasa, menulis, dan membaca, (termasuk bisa membaca tulisan saya juga, hehe :D)..
Namun dibalik kecintaan ibu tersebut, kasih sayang dan cinta dari Allah juga menyertai perjalanan hidup kita. Dengan kasih sayang Allah telah menjaga Ibu saat hamil dan meng-ijabah segala doa yang dipanjatkan orang tua agar kita bisa lahir dengan sehat dan selamat. Kasih sayang Allah masih menyertai kita hingga kita bisa menjadi muslim/muslimah yang baik seperti saat ini | aamiin :) .. Sekarang terjawab sudah bahwa kita adalah “PRODUK CINTA nan MULIA”.
"Allah itu baik.. Allah pun menciptakan kita dengan baik.. Maka berbuatlah yang baik karena Allah menerima semua hal yang Baik.." (Muammal Habibi)
"Allah itu Sumber Kasih Sayang dan Cinta para hambaNya.. Dia menganugerahkan dunia yang indah ini untuk kita.. Dia memanjakan kita, karena pada dasarnya manusia memang makhluk yang manja, yang tak mungkin sanggup hidup tanpa bantuan-Nya, dan Allah Maha Baik selalu mendengarkan & meng-ijabah segala apa yang dibutuhkan para hambaNya.." (Muammal Habibi)
Allah sayang dan peduli kepada para hambaNya.. Allah menyediakan kesempatan bagi hambaNya dalam setiap waktu untuk meminta. Kesempatan tersebut bisa kita pergunakan dalam SHALAT dan DOA. Jika shalat diterapkan dengan baik dan benar sesuai dengan cara Nabi Muhammad Saw serta Khusu’, maka shalat dapat menjadi meditasi terampuh untuk menyelesaikan segala persoalan hidup dan bermacam penyakit baik jiwa, raga, maupun moral yang buruk.
Saat kondisi finansial menipis dan butuh rezeki, Allah mnyediakan caranya (shalat Dhuha),saat mengalami kebimbangan diantara berbagai pilihan dalam hidup dan berharap agar mantap dalam memilih, Allah mnyediakan caranya (shalat istikharah) | ingin diberi segala kebaikan dan kemudahan hidup serta kebaikan akhirat atau apapun yang anda butuhkan, Allah mnyediakan caranya (shalat tahajud). Shalat Tahajjud sangat besar manfaatnya. Selain manfaat di akhirat, sholat tahajud juga sangat bermanfaat di dunia.
Nah, kalau anda saat ini sudah paham, berarti ngga’ ada alasan lagi dong untuk galau dan sedih serta putus asa. Sugestikan pada diri bahwa “SAYA JUARA PENUH CINTA NAN MULIA”. Kalau perlu ucapkan dengan keras sebanyak 10 x 1 hari (kalah dong minum obat :D) | Tetaplah tersenyum.. :)
Oleh karenanya akhir-akhir ini saya begitu gencar berkampanye ANTI GALAU (tapi ngga’ pake dana politik loh :D), karena berharap dengan meng-kampanyekan ANTI GALAU baik melalui akun Facebook pribadi maupun melalui Fanpage "Tebarkan Senyum & Sebarkan Salam” bertujuan untuk membangun dan meneguhkan jiwa Kaum Muslimin agar semakin tegar. Harapannya, setelah membaca tulisan ini anda semua bisa lebih teguh Imannya dan turut berpatisipasi juga dalam membangun dan meneguhkan jiwa saudara-saudara seiman kita. Oke.. :)
karena kita semua Produk Cinta, maka lakukan semua dengan ikhlas dan indah :)
Bila berminat, silahkan di copy tapi bayar royalty ya, (just Kidding) :D | Silahkan juga di Share demi bermanfaat untuk yang lain :)
"Wassalamu'alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakaatuh" :)
NB: Bagi saudara/i diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)
#SalamSenyum :)
Muammal Habibi :)
Selasa, 14 Mei 2013
BERSYUKUR Harus Menjadi Prinsip Setiap Muslim
Mungkinkah kita semua
bisa membayangkan bagaimana nasibnya jika dalam semenit saja Allah dengan
kehendakNya men-STOP oksigen di bumi ini. Bisakah kita bayangkan apa jadinya
jika dalam semenit saja Allah dengan kehendakNya menonaktifkan gaya gravitasi
bumi. Dapatkah kita bayangkan apa jadinya jika dalam beberapa detik saja Allah
dengan kehendakNya melepas lapisan ozon yang membungkus bumi??? Yang pasti jika
hanya salah satu saja dari sebagian kecil kekuasaan Allah tersebut terjadi,
seluruh ekosistem dan tata kehidupan akan berantakan dan dampak buruk yang
terjadi akan sangat luar biasa bagi kehidupan. Syukur Alhamdulillah Allah Swt
Maha Pengasih dan Maha Bijaksana masih mengizinkan kita untuk menikmati
kehidupan dunia sampai detik ini.
Tiada satupun alasan bagi
manusia untuk tidak bersyukur kepada Allah Swt. Seharusnya inilah prinsip yang
wajib dimiliki oleh setiap muslim. Di
mana pun dan dalam keadaan apapun kita wajib mensyukuri apa yang telah Allah
berikan kepada para hambaNya.
Apabila kita mau
berfikir, begitu hebatnya Kebesaran Allah Ta’alaa dan sangat amat kerdilnya
kita sebagai manusia. Dengan kehendakNya Allah mampu melakukan apapun yang Dia
kehendaki. Seluruh ruang di alam semesta ini tidak lepas dari pantauan dan
kendali-Nya. Rangkaian ekosistem dalam kehidupan ini pun telah diatur dengan
begitu rapi dan sistematis oleh-Nya. Pergantian malam dan siang, musim hujan,
panas, semi, dan dingin adalah akibat rotasi dan evolusi bumi dalam mengitari
Sang Surya yang tentunya telah di desain oleh Allah dengan sangat mempesona.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal” {QS. Ali Imran: 190}
Oksigen disediakan
cuma-cuma untuk seluruh makhluknya tanpa satu sen-pun dipungut biaya. Kalaulah sehirup
oksigen itu dikenakan harga, tentu tak akan mampu kita untuk membayarnya.
Seluruh kekayaan dan potensi alam di bumi juga di peruntukkan bagi kita. Gaya
gravitasi bumi yang mungkin jarang kita renungkan diciptakan juga demi
terjaganya kita untuk tetap berpijak di bumi. Mungkin selama ini kita kurang
menganggap sebagian kecil ciptaan Allah tersebut, padahal jika direnungkan
lebih dalam kita tentu tak akan bisa hidup nyaman dan aman di bumi tercinta
kita baik tanpa gaya gravitasi dan oksigen gratis unlimited yang notabene keduanya masih sebagian kecil dari
kebesaran Allah.
Begitu baiknya Allah
Swt dengan seluruh rahmatNya yang masih tercurahkan kepada para makhluknya.
Walaupun terkadang kita sebagai hambaNya bersikap kufur terhadap nikmatNya,
namun Allah masih menjamin oksigen bagi kita. Walaupun diantara para hambaNya
terdapat orang-orang yang mempersekutukan-Nya, namun Allah masih memberikan
kesempatan waktu bagi mereka untuk hidup nyaman di bumi. Walaupun diantara para
manusia ada yang memusuhi agamaNya, namun Allah masih menjamin rizki baginya.
“Dan tidak ada suatu binatang melata [makhluk
Allah yang bernyawa] pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan
Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” {QS Hud: 6}
Sebagai muslim, marilah
kita bersama belajar dan berusaha untuk selalu mensyukuri apapun yang telah
Allah sediakan bagi kita para hambaNya. Sekalipun ditimpa sebuah musibah yang
merupakan bentuk ujian dari Allah, marilah kita tetap bersusaha untuk bersabar dan
tabah serta memohon yang terbaik kepadaNya. Kita harus menyadari bahwa tujuan
kita diciptakan memang untuk diuji. Allah Ta’ala berfirman:
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa
di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun.” {QS Al Mulk: 2}
Sebagai muslim kita
harus meyakini bahwa bersyukur adalah tindakan baik dan bijaksana yang sudah
sepatutnya menjadi sikap setiap muslim dalam setiap momen dan keadaan. Hidup
ini adalah rangkaian proses kita belajar dan berusaha untuk menjadi pribadi
yang berkualitas dihadapan Allah, oleh karenanya belajar dan berusaha untuk
memelihara rasa syukur sudah menjadi tanggung jawab bagi setiap pribadi muslim.
Jangan sampai faktor lain mempengaruhi mempengaruhi prinsip kita akan rasa
syukur. Ingat saudaraku sekalian yang tercinta, ada konsekuensi yang akan kita
dapatkan tergantung apakah kita termasuk hambaNya yang pandai bersyukur ataukah
justru kufur nikmat sebagaimana firmanNya:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu
memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah
(nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih”. {QS. Ibrahim: 7}
Rasa syukur yang kita
miliki adalah salah satu nikmat yang tidak semua orang mampu untuk menjaganya.
Selain Allah menjanjikan nikmat yang bertambah bagi hambaNya yang bersyukur,
dengan rasa syukur seseorang bisa merasa tenteram dan nyaman dalam menjalani
kehidupan, tidak merasa iri dengan kelebihan yang dimiliki orang lain, dan
selalu rendah hati akan nikmat Allah yang telah ia peroleh.
Rasulullah Muhammad Saw
pernah berpesan kepada kita selaku ummatnya:
Dari Abu Hurairah
Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang
berada di atasmu karena hal itu lebih patut agar engkau sekalian tiak
menganggap rendah nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu. {Muttafaq Alaihi}.
Dari hadits beliau yang
tersurat, telah menyiratkan bahwa sejatinya setiap muslim haruslah memiliki
rasa simpati dan empati kepada saudaranya yang secara kondisi tidak lebih baik
dari kita. Dengan merasa simpati dan empati, kita bisa membayangkan mungkinkah
kita bisa hidup seperti mereka yang kondisinya dibawah, lalu kita pun merasa
diri sebagai manusia yang lebih beruntung sehingga tak ada satupun alasan yang
tepat untuk tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah beri dan alangkah baiknya jika hati kita tergerak
untuk membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Dengan kita berpikir
dan merenungkan seluruh ciptaan Allah, hal itu akan membuat kita sangat kagum
dan terpesona akan Allah dan KeagunganNya. Selain itu juga akan membuat kita
semakin beriman dan bertaqwa kepadaNya. Cinta, kekaguman, dan ketakjuban serta
rasa syukur kita pada-Nya kian kuat terjaga dan terpelihara.
Semoga dalam perjalan
hidup ini Allah selalu membimbing dan menuntun setiap langkah kita serta
menganugerahkan semangat yang luar biasa pada kita untuk selalu bersyukur
selamanya. Amiin Ya Rabb..
NB: Bagi saudara/i
diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus
mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas
dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)
Senin, 06 Mei 2013
Waktu Bukanlah Uang & Bukan Emas
Waktu Bukanlah Uang & Bukan Emas
Oleh: Muammal Habibi
Bagi
saya, Waktu bukan hanya sekedar uang, bukan juga sekedar emas maupun materi
paling berharga yang ada di dunia ini. Bila uang dan emas hilang, kita masih
bisa mencari uang dan membeli emas lagi.
Namun bila waktu yang berlalu tentu kita tak akan pernah bisa memintanya
kembali sekalipun kita menukarnya dengan segala bentuk materi berharga yang kita
miliki. Sangat
mungkin jika dalam sehari kita menghasilkan uang dan membeli emas, tapi
sangat mustahil dalam sehari kita bisa mengahasilkan waktu walaupun
sedetik. Sedetik saja waktu berlalu percuma, itu sama artinya sedetik umur kita berkurang sia-sia. Bagaimana jika semenit, sejam, sehari, sebulan, dan bahkan setahun waktu berlalu begitu saja tanpa manfaat baik di dunia maupun akhirat.
Tentu
kita semua setuju jika tiap detik dalam hidup kita itu berharga, namun tak
semua orang mau memahami bagaimana menghargai tiap detik dalam waktu yang kita
miliki. Dari detik-detik yang telah kita lalui akan memperlihatkan apakah kita
termasuk orang berkualitas ataukah orang yang gagal dan merugi. Setiap orang memiliki
waktu yang sama 24 jam dalam sehari, namun dari mereka yang benar-benar menganggap
waktu sangat berharga hanyalah mereka yang terbukti pandai memanfaatkan
waktunya untuk hal-hal yang positif.
Sebagai
muslim tentu kita sering mendengar Firman Allah Swt yang berbunyi:
“Demi masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati
kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran”
(QS. Al ‘Ashr).
”Seandainya
setiap manusia merenungkan surah ini, niscaya hal itu akan mencukupi untuk
mereka.” [Tafsir Ibnu Katsir 8/499].
Syaikh
Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, ”Maksud perkataan Imam
Syafi’i adalah surat ini telah cukup bagi manusia untuk mendorong mereka agar
memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada
Allah, dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud bahwa manusia cukup
merenungkan surat ini tanpa mengamalkan seluruh syari’at. Karena seorang yang
berakal apabila mendengar atau membaca surat ini, maka ia pasti akan berusaha
untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan empat
kriteria yang tersebut dalam surat ini, yaitu beriman, beramal shalih, saling
menasehati agar menegakkan kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati agar
bersabar” [Syarh Tsalatsatul Ushul].
Surah
Al Ashr merupakan salah satu surah yang terdapat dalam Al Qur’an juz 30. Surah
ini pendek dan umumnya banyak kaum muslimin yang sudah hafal, bahkan anak kecil
pun sudah banyak yang dilatih untuk menghafal surah ini. Anehnya, surah ini
memang sudah banyak diajarkan oleh para orang tua, guru, ustadz maupun
ustadzah. Namun dalam realitanya masih banyak diantara kaum muslimin yang
kurang menyadari, menghayati dan mentadabburi kandungan dalam surah tersebut. Keadaan
tersebut terbukti jika dikorelasikan ataupun dihubungkan dengan realita
banyaknya kaum muslimin yang membuang waktunya secara percuma untuk hal-hal
yang tidak bermanfaat.
Dari Abu Hurairah
radhiallahunhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak
berguna baginya .
(Hadits Hasan riwayat
Turmuzi dan lainnya)
Sebagai
muslim, baik saya, anda, atau mereka, harus disadari bahwa kita umat muslim sudah
jauh tertinggal oleh kaum lain. Bisa kita lihat realitanya saat ini antara
bangsa-bangsa muslim kalah maju dengan bangsa-bangsa non muslim. Fakta lain, Indonesia
yang mayoritas berpenduduk muslim cenderung dan dominan lebih konsumtif dari pada
produktif. Hampir seluruh properti ataupun perlengkapan yang dalam sehari-hari
digunakan adalah hasil karya bangsa lain. Lalu sampai kapan kita akan terus
menjadi Negara muslim yang konsumtif. Tentu jika kita semua ingin lebih baik
tidakalah bijak jika kita hanya mengandalkan penguasa atau pemerintah selaku
wakil rakyat untuk menggerakan Negara ini, melainkan perubahan ke arah lebih
baik harus ada pada tiap individu. Sebab, maju mundurnya suatu bangsa tergantung
dari seberapa banyak putera-puteri bangsa disiplin dalam mengatur waktu dan
gigih dalam mencapai prestasi.
Marilah kita bersama untuk senantiasa menghargai setiap detik waktu kita, memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya, menjadikan tiap detik waktu sebagai bagian terindah yang melebihi segala macam apapun bentuk harta yang paling berharga.
Tindakan
paling sederhana untuk menuju lebih baik adalah mulai dari diri sendiri. Perbaikan
diri dan mengatur manajemen waktu menjadi langkah dasar kita untuk menuju masa
depan lebih baik.
Semoga
Allah Selalu menyertai dan membimbing setiap langkah kita guna meraih ridho-Nya.
NB: Bagi saudara/i diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)
NB: Bagi saudara/i diperbolehkan untuk meng-copy paste artikel ini, namun dengan syarat harus mencantumkan sumber (source) web ini guna pihak lain juga mendapat manfaat atas dibuatnya blog ini dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan secara bersama. Syukran :)
Minggu, 31 Juli 2011
WANITA SEBAGAI ISTRI
Sebagian agama dan sistem menganggap wanita sebagai barang yang najis atau sesuatu yang menjijikkan dari perbuatan syetan yang harus dijauhi dan lebih baik hidup menyendiri. Sebagian yang lainnya menganggap bahwa kedudukan seorang istri sekedar sebagai alat pemuas nafsu bagi suaminya atau yang meladeni makanannya dan menjadi pelayan di dalam rumah tangganya.
Maka Islam datang untuk mengumumkan batalnya kerahiban dan melarang hidup menyendiri (tak mau menikah selamanya). Sebaliknya, Islam mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kehidupan ini. Allah SWT berfirman:
Pertama kali hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah mas kawin yang telah diwajibkan oleh Islam sebagai tanda kecintaan seorang suami terhadap istrinya. Allah SWT berfirman,
Hak yang kedua yang harus dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah nafkah. Seorang suami diwajibkan untuk mencukupi makanan, pakaian, tempat tinggal dan pengobatan kepada istrinya.
Rasulullah SAW menjelaskan hak-hak wanita yang harus dipenuhi oleh seorang suami dalam sabdanya, "Dan bagi wanita (yang diwajibkan) atas kamu (kaum lelaki) rizki mereka dan pakaian mereka dengan ma'ruf (baik)." Yang dimaksud dengan ma'ruf adalah sesuatu yang dianggap baik oleh ahli agama tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Allah berfirman:
Sirah Nabawiyah secara aplikatif telah membuktikan kelembutan RasuIullah SAW terhadap keluarganya dan akhlaq beliau sangat mulia terhadap para istrinya. Sampai-sampai Rasulullah SAW sering membantu para istrinya untuk menyelesaikan tugas-tugas di rumah dan di antara kelembutan Rasulullah SAW adalah bahwa beliau pernah mendahului Aisyah berlomba lari dua kali, lalu Aisyah mengalahkan beliau sekali dan sekali lagi dalam kesempatan yang lainnya. Maka beliau berkata kepada Aisyah "Ini dengan itu (skor sama)."
Sebagai timbal balik dari pelaksanaan hak-hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya, maka Islam mewajibkan kepada istri untuk mentaati suami di luar perkara maksiat. Serta memelihara hartanya, sehingga seorang istri tidak boleh mempergunakan harta tersebut kecuali dengan izinnya. Demikian juga seorang istri wajib memelihara rumahnya sehingga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali atas seizin suaminya, walaupun itu keluarganya.
Kewajiban-kewajiban ini tidak banyak dan tidak bersifat menzhalimi seorang istri, jika dibandingkan dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suaminya. Oleh karena itu setiap hak selalu diimbangi dengan kewajiban, dan di antara keadilan Islam bahwa Islam tidak menjadikan kewajiban itu hanya dibebankan pada wanita saja atau laki-laki saja.
Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas pernah berdiri di depan cermin untuk memperbagus penampilannya. Ketika ditanya beliau menjawab, "Aku berhias untuk istriku sebagaimana istriku berhias untukku," kemudian membacakan ayat yang artinya:
Maka Islam datang untuk mengumumkan batalnya kerahiban dan melarang hidup menyendiri (tak mau menikah selamanya). Sebaliknya, Islam mengajarkan kepada kita bahwa pernikahan adalah salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah dalam kehidupan ini. Allah SWT berfirman:
"Dan di antara tanda-tanda kekuasann-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhrya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir." (Ar-Rum: 21)Ada sebagian sahabat Rasulullah SAW yang ingin memusatkan perhatiannya untuk beribadah dengan cara berpuasa sepanjang siang dan shalat sepanjang malam serta menjauh dari wanita. Maka Rasulullah SAW mengingkari hal itu dengan mengatakan:
"Adapun saya, berpuasa dan makan, shalat dan tidur dan menikahi wanita, maka barangsiapa yang tidak suka dengan sunnahku, maka tidak termasuk golonganku." (HR. Bukhari)Islam telah menjadikan istri yang shalihah merupakan kekayaan paling berharga bagi suaminya setelah beriman kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya. Islam menganggap istri yang shalihah itu sebagai salah satu sebab kebahagiaan.
Rasulullah SAW bersabda, "Seorang mukmin tidak memperoleh kemanfaatan setelah bertaqwa kepada Allah Azza wa jalla yang lebih baik selain istri yang shalihah, jika suami menyuruhnya dia taat, jika dipandang dia menyenangkan, jika ia bersumpah kepadanya dia mengiyakan, dan jika Suami pergi (jauh dari pandangan) maka dia memelihara diri dan harta (suami)nya" (HR. Ibnu Majah)Islam mengangkat nilai wanita sebagai istri dan menjadikan pelaksanaan hak-hak suami-istri itu sebagai jihad di jalan Allah.
Rasulullah SAW bersabda, "Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah." (HR. Muslim)
Rasulullah SAW bersabda, "Di antara kebahagiaan anak Adam (adalah) istri shalihah, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. (HR. Ahmad)
Ada seorang wanita datang kepada Nabi SAW bertanya, "Wahai RasuIullah, sesungguhnya aku adalah delegasi wanita yang diutus kepadamu dan tidak ada satu wanita pun kecuali agar aku keluar untuk menemui engkau." Kemudian wanita itu mengemukakan permasalahannya dengan mengatakan, "Allah adalah Rabb-nya laki-laki dan wanita dan ilah mereka. Dan engkau adalah utusan Allah untuk laki-laki dan wanita, Allah telah mewajibkan jihad kepada kaum laki-laki sehingga apabila mereka memperoleh kemenangan akan mendapat pahala, dan apabila mati syahid mereka akan tetap hidup di sisi Rabb-nya dan diberi rizki. Amal perbuatan apakah yang bisa menyamai perbuatan mereka dari ketaatan? Nabi SAW menjawab, "Taat kepada suami dan memenuhi hak-haknya tetapi sedikit dari kaum yang bisa melaksanakannya." (HR. Tabrani)Islam telah menetapkan untuk istri hak-hak yang wajib dipenuhi oleh suaminya. Hak-hak itu tak sekedar tinta di atas kertas, akan tetapi Islam menjadikan lebih dari itu yaitu yang mampu memelihara dan mengawasi. Pertama, keimanan dan ketaqwaan seorang Muslim, kedua, hati nurani masyarakat dan kesadarannya, dan ketiga keterikatan dengan hukum Islam.
Pertama kali hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah mas kawin yang telah diwajibkan oleh Islam sebagai tanda kecintaan seorang suami terhadap istrinya. Allah SWT berfirman,
"Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika: mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati; maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya." (An-Nisa': 4)Maka di manakah letak wanita dalam peradaban selain Islam yang memberikan sebagian hartanya kepada kaum lelaki, padahal fithrah Allah telah menjadikan wanita itu menuntut dan tidak dituntut (untuk memberi harta).
Hak yang kedua yang harus dipenuhi seorang suami terhadap istrinya adalah nafkah. Seorang suami diwajibkan untuk mencukupi makanan, pakaian, tempat tinggal dan pengobatan kepada istrinya.
Rasulullah SAW menjelaskan hak-hak wanita yang harus dipenuhi oleh seorang suami dalam sabdanya, "Dan bagi wanita (yang diwajibkan) atas kamu (kaum lelaki) rizki mereka dan pakaian mereka dengan ma'ruf (baik)." Yang dimaksud dengan ma'ruf adalah sesuatu yang dianggap baik oleh ahli agama tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Allah berfirman:
"Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannnya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadannya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kesanggupan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan." (At-Thalaq:7)Hak yang ketiga adalah mempergauli dengan baik. Allah SWT berfirman, "Dan pergaulilah mereka (istri-istrimu), baik dalam berbicara, wajah yang berseri-seri, menghibur dengan bersendagurau dan mesra dalam hubungan.
Rasulullah SAW bersabda, "Mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling bersikap lemah lembut terhadap keluarganya." (HR. Tirmidzi)Ibnu Hibban berkata dari Aisyah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluarganya dan saya adalah sebaik-baik (perlakuan) terhadap keluarga saya."
Sirah Nabawiyah secara aplikatif telah membuktikan kelembutan RasuIullah SAW terhadap keluarganya dan akhlaq beliau sangat mulia terhadap para istrinya. Sampai-sampai Rasulullah SAW sering membantu para istrinya untuk menyelesaikan tugas-tugas di rumah dan di antara kelembutan Rasulullah SAW adalah bahwa beliau pernah mendahului Aisyah berlomba lari dua kali, lalu Aisyah mengalahkan beliau sekali dan sekali lagi dalam kesempatan yang lainnya. Maka beliau berkata kepada Aisyah "Ini dengan itu (skor sama)."
Sebagai timbal balik dari pelaksanaan hak-hak yang wajib dipenuhi seorang suami terhadap istrinya, maka Islam mewajibkan kepada istri untuk mentaati suami di luar perkara maksiat. Serta memelihara hartanya, sehingga seorang istri tidak boleh mempergunakan harta tersebut kecuali dengan izinnya. Demikian juga seorang istri wajib memelihara rumahnya sehingga tidak boleh memasukkan orang ke dalam rumahnya kecuali atas seizin suaminya, walaupun itu keluarganya.
Kewajiban-kewajiban ini tidak banyak dan tidak bersifat menzhalimi seorang istri, jika dibandingkan dengan kewajiban yang harus dipenuhi oleh suaminya. Oleh karena itu setiap hak selalu diimbangi dengan kewajiban, dan di antara keadilan Islam bahwa Islam tidak menjadikan kewajiban itu hanya dibebankan pada wanita saja atau laki-laki saja.
Diriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas pernah berdiri di depan cermin untuk memperbagus penampilannya. Ketika ditanya beliau menjawab, "Aku berhias untuk istriku sebagaimana istriku berhias untukku," kemudian membacakan ayat yang artinya:
"Dan para wanita mernpunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya ." (Al Bagarah: 228)Ini adalah bukti yang nyata tentang dalamnya pemahaman Rasul dan sahabat terhadap Al Qur'an.
Jumat, 17 September 2010
Wanita Shalikhah
![]() |
Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. mulialah wanita shalihah. Di dunia, ia akan menjadi cahaya bagi keluarganya dan berperan melahirkan generasi dambaan. Jika ia wafat, Allah akan menjadikannya bidadari di surga. Kemuliaan wanita shalihah digambarkan Rasulullah Saw. dalam sabdanya, “Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah (HR.Muslim).
Dalam Al-Quran surat An-Nur: 30-31, Allah Swt. memberikan gambaran wanita shalihah sebagai wanita yang senantiasa mampu menjaga pandangannya. Ia selalu taat kepada Allah dan Rasul Nya. Make up- nya adalah basuhan air wudhu. Lipstiknya adalah dzikir kepada Allah. Celak matanya adalah memperbanyak bacaan Al-Quran.
Wanita shalihah sangat memperhatikan kualitas kata-katanya. Tidak ada dalam sejarahnya seorang wanita shalihah centil, suka jingkrak-jingkrak, dan menjerit-jerit saat mendapatkan kesenangan. Ia akan sangat menjaga setiap tutur katanya agar bernilai bagaikan untaian intan yang penuh makna dan bermutu tinggi. Dia sadar betul bahwa kemuliaannya bersumber dari kemampuannya menjaga diri (iffah).
Wanita shalihah itu murah senyum. Baginya, senyum adalah shadaqah. Namun, senyumnya tetap proporsional. Tidak setiap laki-laki yang dijumpainya diberikan senyuman manis. Senyumnya adalah senyum ibadah yang ikhlas dan tidak menimbulkan fitnah bagi orang lain. Wanita shalihah juga pintar dalam bergaul. Dengan pergaulan itu, ilmunya akan terus bertambah. Ia akan selalu mengambil hikmah dari orang-orang yang ia temui. Kedekatannya kepada Allah semakin baik dan akan berbuah kebaikan bagi dirinya maupun orang lain. Ia juga selalu menjaga akhlaknya.
Salah satu ciri bahwa imannya kuat adalah kemampuannya memelihara rasamalu. Dengan adanya rasa malu, segala tutur kata dan tindak tanduknya selalu terkontrol. Ia tidak akan berbuat sesuatu yang menyimpang dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah. Ia sadar bahwa semakin kurang iman seseorang, makin kurang rasa malunya. Semakin kurang rasa malunya, makin buruk kualitas akhlaknya.
Pada prinsipnya, wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Rambu-rambu kemuliaannya bukan dari aneka aksesoris yang ia gunakan. Justru ia selalu menjaga kecantikan dirinya agar tidak menjadi fitnah bagi orang lain. Kecantikan satu saat bisa jadi anugerah yang bernilai. Tapi jika tidak hati-hati, kecantikan bisa jadi sumber masalah yang akan menyulitkan pemiliknya sendiri.
Saat mendapat keterbatasan fisik pada dirinya, wanita shalihah tidak akan pernah merasa kecewa dan sakit hati. Ia yakin bahwa kekecewaan adalah bagian dari sikap kufur nikmat. Dia tidak akan merasa minder dengan keterbatasannya. Pribadinya begitu indah sehingga make upapa pun yang dipakainya akan memancarkan cahaya kemuliaan. Bahkan, kalaupun ia “polos” tanpa make up sedikit pun, kecantikan jiwanya akan tetap terpancar dan menyejukkan hati orang-orang di sekitarnya.
Jika ingin menjadi wanita shalihah, maka belajarlah dari lingkungan sekitar dan orang-orang yang kita temui. Ambil ilmunya dari mereka. Bahkan kita bisa mencontoh istri-istri Rasulullah Saw. seperti Aisyah. Ia terkenal dengan kekuatan pikirannya. Seorang istri seperti beliau bisa dijadikan gudang ilmu bagi suami dan anak-anak.
Contoh pula Siti Khadijah, figur istri shalihah penentram batin, pendukung setia, dan penguat semangat suami dalam berjuang di jalan Allah Swt. Beliau berkorban harta, kedudukan, dan dirinya demi membela perjuangan Rasulullah. Begitu kuatnya kesan keshalihahan Khadijah, hingga nama beliau banyak disebut-sebut oleh Rasulullah walau Khadijah sendiri sudah meninggal.
Bisa jadi wanita shalihah muncul dari sebab keturunan. Seorang pelajar yang baik akhlak dan tutur katanya, bisa jadi gambaran seorang ibu yang mendidiknya menjadi manusia berakhlak. Sulit membayangkan, seorang wanita shalihah ujug-ujug muncul tanpa didahului sebuah proses. Di sini, faktor keturunan memainkan peran. Begitu pun dengan pola pendidikan, lingkungan, keteladanan, dan lain-lain. Apa yang tampak, bisa menjadi gambaran bagi sesuatu yang tersembunyi. Banyak wanita bisa sukses.
Namun tidak semua bisa shalihah. Shalihah atau tidaknya seorang wanita bergantung ketaatannya pada aturan-aturan Allah. Aturan-aturan tersebut berlaku universal, bukan saja bagi wanita yang sudah menikah, tapi juga bagi remaja putri. Tidak akan rugi jika seorang remaja putri menjaga sikapnya saat mereka berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Bertemanlah dengan orang-orang yang akan menambah kualitas ilmu, amal, dan ibadah kita. Ada sebuah ungkapan mengatakan, “Jika kita ingin mengenal pribadi seseorang maka lihatlah teman-teman disekelilingnya. ”
Peran wanita shalihah sangat besar dalam keluarga, bahkan negara. Kita pernah mendengar bahwa di belakang seorang pemimpin yang sukses ada seorang wanita yang sangat hebat. Jika wanita shalihah ada di belakang para lelaki di dunia ini, maka berapa banyak kesuksesan yang akan diraih. Selama ini, wanita hanya ditempatkan sebagai pelengkap saja, yaitu hanya mendukung dari belakang, tanpa peran tertentu yang serius.
Wanita adalah tiang Negara. Bayangkanlah, jika tiang penopang bangunan itu rapuh, maka sudah pasti bangunannya akan roboh dan rata dengan tanah. Tidak akan ada lagi yang tersisa kecuali puing-puing yang nilainya tidak seberapa. Kita tinggal memilih, apakah akan menjadi tiang yang kuat atau tiang yang rapuh? Jika ingin menjadi tiang yang kuat, kaum wanita harus terus berusaha menjadi wanita shalihah dengan mencontoh pribadi istri-istri Rasulullah. Dengan terus berusaha menjaga kehormatan diri dan keluarga serta memelihara farji-nya, maka pesona wanita shalihah akan melekat pada diri kaum wanita.
Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya. Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).
Tips Mengendalikan Emosi
Tips Mengendalikan Emosi
Sikap Emosional adalah sikap yang sering kali membuat seseorang menjadi salah dalam menetapkan sesuatu didalam problematika kehidupannya. Seseorang yang emosional cenderung akan menjawab segala permasalahan dengan amarahnya. Seolah-olah hanya dengan sikap emosi semua hal akan dapat teratasi dan terselesaikan didalam menjalani hidup ini. Hal semacam itu adalah merupakan cara yang sangat keliru, sebab sikap yang emosional akan membuat terhambatnya seseorang untuk mengambil hikmah dari proses hidup yang dijalani.
Beberapa tips ketika sedang emosi:
1. Meyakini bahwa setiap masalah ataupun kesulitan yang kita hadapi adalah merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Swt kepada setiap hambaNya untuk menentukan siapa yang terbaik amal perbuatannya diantara kita. Sebab pada dasarnya manusia diciptakan adalah untuk diuji. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman: “Dialah Allahyang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
2. Menyadari bahwa segala hal persoalan atau permasalahan yang diselesaikan dengan sikap emosional tidak akan memberikan hasil yang positif. Justu akan memberikan hasil yang negatif yang sering kali memanjakan diri dengan pemikiran penuh kebencian, kekesalan, ataupun kemarahan.
3. Bersabar terhadap segala kondisi yang sedang dialami. Karena kesabaran akan membuat seseorang dapat berfikir dengan jernih dan mampu mengambil suatu tindakan yang lebih bijak. Setelah kesabaran telah mendamaikan diri dan dapat terkendali sepenuhnya, kita pun bisa memikirkan suatu cara yang bisa memberikan solusi.
4. Mempercerdas emosi yang salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan amarah ataupun aura-aura sejenisnya yang pada dasarnya tidak mendukung dan justru menjerumuskan seseorang kepada hal yang salah.
5. Wajah berseri, pancaran wajah sangatlah penting. Pancaran wajah adalah merupakan cerminan yang bisa terlihat sesuai dengan kondisi yang sedang dialaminya. Sungguh sangatlah berbeda pancaran wajah dari orang yang sedang emosi yang terlihat seram (tidak enak dipandang) dibandingkan dengan orang yang sedang bahagia yang terlihat berseri. Oleh karena itu, perlihatkanlah pancaran wajah yang berseri karena hal itu merupakan salah satu amalan yang sangat baik. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik.” (Riwayat Abu Ya’la. Hadits shahih menurut Hakim)
6. Mencari solusi terbaik dengan penuh pertimbangan yang maksimal dan nantinya dapat memberikan hasil baik.
Sikap Emosional adalah sikap yang sering kali membuat seseorang menjadi salah dalam menetapkan sesuatu didalam problematika kehidupannya. Seseorang yang emosional cenderung akan menjawab segala permasalahan dengan amarahnya. Seolah-olah hanya dengan sikap emosi semua hal akan dapat teratasi dan terselesaikan didalam menjalani hidup ini. Hal semacam itu adalah merupakan cara yang sangat keliru, sebab sikap yang emosional akan membuat terhambatnya seseorang untuk mengambil hikmah dari proses hidup yang dijalani.
Beberapa tips ketika sedang emosi:
1. Meyakini bahwa setiap masalah ataupun kesulitan yang kita hadapi adalah merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah Swt kepada setiap hambaNya untuk menentukan siapa yang terbaik amal perbuatannya diantara kita. Sebab pada dasarnya manusia diciptakan adalah untuk diuji. Sebagaimana Allah Swt telah berfirman: “Dialah Allahyang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)
2. Menyadari bahwa segala hal persoalan atau permasalahan yang diselesaikan dengan sikap emosional tidak akan memberikan hasil yang positif. Justu akan memberikan hasil yang negatif yang sering kali memanjakan diri dengan pemikiran penuh kebencian, kekesalan, ataupun kemarahan.
3. Bersabar terhadap segala kondisi yang sedang dialami. Karena kesabaran akan membuat seseorang dapat berfikir dengan jernih dan mampu mengambil suatu tindakan yang lebih bijak. Setelah kesabaran telah mendamaikan diri dan dapat terkendali sepenuhnya, kita pun bisa memikirkan suatu cara yang bisa memberikan solusi.
4. Mempercerdas emosi yang salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan amarah ataupun aura-aura sejenisnya yang pada dasarnya tidak mendukung dan justru menjerumuskan seseorang kepada hal yang salah.
5. Wajah berseri, pancaran wajah sangatlah penting. Pancaran wajah adalah merupakan cerminan yang bisa terlihat sesuai dengan kondisi yang sedang dialaminya. Sungguh sangatlah berbeda pancaran wajah dari orang yang sedang emosi yang terlihat seram (tidak enak dipandang) dibandingkan dengan orang yang sedang bahagia yang terlihat berseri. Oleh karena itu, perlihatkanlah pancaran wajah yang berseri karena hal itu merupakan salah satu amalan yang sangat baik. Sebagaimana Rasulullah Saw pernah bersabda: Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik.” (Riwayat Abu Ya’la. Hadits shahih menurut Hakim)
6. Mencari solusi terbaik dengan penuh pertimbangan yang maksimal dan nantinya dapat memberikan hasil baik.
Langganan:
Postingan (Atom)